Senin, 12 November 2012

Laporan praktikum biologi dasar "Populasi"


LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI DASAR

PERCOBAAN  IV
POPULASI, KOMUNITAS DAN EKOSISTEM


NAMA                                               : KHALIL MUBARAK
NIM                                                    : H31112021
KELOMPOK                                    : 3 (TIGA)
HARI/TANGGAL PERCOBAAN : SENIN/15 OKTOBER 2012
ASISTEN                                           : ANWAR



LABORATORIUM BIOLOGI DASAR
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASAR
2012
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Semua organisme yang hidup dialam tidak dapat hidup sendiri melainkan harus selalu berinteraksi baik dengan alam (lingkungan). Organisme hidup dalam sebuah system ditopang oleh berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling berpengaruh, baik selara langsung maupun tidak langsung. Kehadupan semua jenis makhluk hidup sering mempengaruhi, sastra berinteraksi dengan alam membentuk kesatuan disebut ekosistem. Ekosistem juga menunjukkan adanya interaksi bolak balik antara makhluk hidup (biotic) dengan alam (abiotik) (Firmansyah, 2009).
            Ekosistem merupakan suatu kesatuan fungsional yang didalamnya mengalir energi dan makanan (nutrient) antara lingkungan fisik (lingkungan abiotik) dan lingkungan biotic. Lingkungan biotic dan lingkungan abiotik secara terus menerus memiliki dampak satu terhadap yang lainnya sehingga menghasilkan suatu hubungan ketergantungan yang kompleks. Hal tersebut dapat menciptakan keseimbangan alam dalam kehidupan adanya suatu faktor dapat menyebabkan tergantungnya keseimbangan ekosistem itu akan mengalami perubahan juga (Ferdinand, 2009).
            Cabang biologi yang mempelajari ekosistem adalah ekologi, ekologi berasal dari bahasa yunani yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti liana. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi kita akan tahu bahwa makhluk hidup sebagai kesatuan atau system dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti diatas pertama (Herni, 2009).
            Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasna ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya yaitu faktor abiotik dan biotic. Faktor abiotik antara lain suhu, kelembapan udara, kecepatan angina, intesitas ahaya, PH tanah dan tinggi sereseh (sampah daun). Faktor biotic adalah faktor hidup yang terdiri dari manusia hewan , tumbuhan dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkat-tingkatan organisasi makhluk hidup yaitu populasi, komunikasi dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu system yang menunjukkan kesatuan kompleks (Firmansyah, 2009).

I.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah:
a)        Menggunakan model untuk meneliti bagaimana suatu populasi dapat tumbuh.
b)        Mempelajari suatu komunitas, mengumpulkan data sebanyak mungkin selama waktu dan kesempatan memungkinkan. Kemudian memeriksa hubungan antara masing-masing spesies, agar dapat memperkirakan urutan mana yang paling penting dan untuk mengetahui struktur komunitas itu.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan populasi,komunitas dan ekosistem dilakukan di dalam dan di sekitar laboratorium biologi pada hari senin, 15 oktober 2012 pukul 14.00-17.30 WITA, bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi,Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Makassar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Ekosistem merupakan kesatuan fungsional antara makhluk hidup dengan lingkungannya yang di dalamnya terdapat hubungan dan interaksi yang sangat erat dan saling memengaruhi. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dalam suatu ekosistem disebut ekologi (Herni, 2009).
 Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu oikos (rumah atau tempat hidup) dan logos (ilmu), jadi ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antarmakhluk hidup dan interaksi antar makhluk hidup dan lingkungannya meliputi (Herni, 2009):
a.       Individu:  Individu berasal dari kata Latin in (tidak) dan dividus (dapat dibagi), jadi individu adalah organisme tunggal yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Contohnya seekor kijang.
b.      Populasi : Kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu. Contohnya kumpulan kerbau di padang rumput.
c.       Komunitas : Komunitas adalah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain. Jadi organisme dalam suatu ekosistem saling berhubungan dan berinteraksi.Selain itu, lingkungan juga memengaruhi kehidupan organisme.
d.      Ekosistem : Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi.Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebutekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen(tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme). Hal-hal yang menyebabkan suatu ekosistem berbeda denganekosistem yang lain adalah jumlah dan jenis produsen,jumlah dan jenis konsumen, keragaman mikroorganisme,jumlah dan macam komponen abiotik, kompleksitasinteraksi, dan berlangsungnya berbagai proses dalam suatuekosistem.Komponen ekosistem selalu berhubungan dan berinteraksi menurut dinamika tertentu. Interaksi antarkomponen ekologi dapat merupakan interaksi antarorganisme, antarpopulasi, dan antarkomunitas.

Komponen Penyusun Ekosistem
Suatu ekosistem disusun oleh dua komponen utama yaitu komponen biotik meliputi berbagai jenis makhluk hidup dan komponen abiotik meliputi lingkungan fisik dan kimia (lingkungan tak hidup) (Herni, 2009) :
1.      Komponen Biotik
Komponen biotik suatu ekosistem meliputi semua jenismakhluk hidup, baik berupa tumbuhan, hewan, jamur, maupun mikroorganisme lain. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Berdasarkan peranannya, komponen biotik dibedakan menjadi komponen autotrof, heterotrof, dan pengurai.
a. Komponen autotrof
Komponen autotrof adalah organisme yang mampumensintesis makanan sendiri berupa bahan organik daribahan anorganik dengan bantuan energi seperti energi cahaya matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen yang menyediakan makanan bagi organisme heterotrof. Komponen autotrof yang utama adalah berbagai tumbuhan hijau.
b. Komponen heterotrof
Komponen heterotrof merupakan organisme yangmemperoleh makanan atau bahan organik dengan memakan organisme lain atau sisa-sisanya. Organisme heterotrof tidak dapat mensintesis makanan sendiri, sehingga makanan selalu diperoleh dari organisme lain, misalnya herbivora memperoleh makanan dari tumbuh-tumbuhan dan karnivora memperoleh makanan dari mangsanya. Contoh
komponen heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
c. Detrivor dan Pengurai (dekomposer)
Detrivor adalah komponen ekosistem yang memakan detritus atau sampah, sedangkan pengurai adalah organisme heterotrof yang memperoleh makanan dengan menguraikanbahan organik berupa sisa-sisa organisme yang telah mati. Organisme ini menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen.



2.      Komponen Abiotik
Komponen abiotik adalah semua faktor penyusun ekosistem yang terdiri dari benda-benda mati, antara lain oksigen, kelembapan dan suhu, air dan garam mineral, cahaya matahari, dan tingkat keasaman tanah atau pH tanah (Suwarno, 2009).
a. Oksigen
Makhluk hidup dalam ekosistem membutuhkan oksigen untuk respirasi atau pernapasan. Dengan adanya oksigen, zat organik yang ada dalam tubuh akan dioksidasi untuk menghasilkan energi untuk tetap bisa bertahan hidup.
b. Kelembapan dan suhu
Kelembapan dan suhu juga sangat memengaruhi keberadaan suatu organisme dalam suatu ekosistem. Kelembapan dan suhu berpengaruh terhadap hilangnya air yang terjadi melalui penguapan. Setiap organisme memiliki toleransi yang berbeda-beda terhadap suhu dan kelembapan. Jamur dan lumut hanya mampu bertahan pada habitat yang memiliki kelembapan tinggi dan tak mampu hidup pada daerah yang panas. Suhu terendah yang masih memungkinkan organisme hidup disebut sebagai suhu minimum. Suhu yang paling sesuai dan mendukung kehidupan untuk organisme disebut sebagai suhu optimum, sedangkan suhu tertinggi yang masih dapat ditoleransi atau memungkinkan organisme hidup disebut sebagai suhu maksimum.
c. Air dan garam mineral
Air merupakan penyusun tubuh setiap makhluk hidup. Sebagian besar tubuh tersusun oleh air, sehingga begitu pentingnya air bagi metabolisme kehidupan makhluk hidup. Selain itu, baik hewan maupun tumbuhan juga memerlukan garam-garam mineral. Meskipun jumlah yang dibutuhkan sedikit, namun harus ada karena tak bisa diganti oleh zat yang lain. Contohnya tumbuhan memerlukan zat besi (Fe) untuk pembentukan klorofil.
d. Cahaya matahari
Cahaya matahari merupakan sumber energi dari semua organisme yang ada.
e. Tanah
 Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Tanah jugamenyediakan unsur-unsur penting bagi kehidupan organisme, terutama tumbuhan.


Keseimbangan Ekosistem
Dalam suatu ekosistem yang masih alami dan belum terganggu akan didapati adanya keseimbangan antara komponen-komponen penyusun ekosistem tersebut. Keadaan seperti ini disebut juga sebagai homeostatis, yaitu kemampuan ekosistem untuk dapat menahan berbagai perubahan dalam sistem secara menyeluruh. Sistem yang dimaksud meliputi penyimpanan zat hara, pertumbuhan dan perkembangan organisme yang ada, pelepasan zat hara di lingkungan, reproduksi organisme dan juga meliputi sistem penguraian jasad-jasad makhluk hidup yang telah mati (Suwarno, 2009).
Rantai makanan.
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu. Dalam rantai makanan ada makhluk hidup yang berperan sebagai produsen,  konsumen, dan dekomposer (Anonim, 2012).
Jaring-Jaring Makanan.
Jaring-jaring makanan adalah kumpulan dari rantai makanan yang saling berhubungan. Kelangsungan hidup organisme membutuhkan energi dari bahan organik yang dimakan. Bahan organik yang mengandung energi dan unsur-unsur kimia  transfer dari satu organisme ke organisme lain berlangsung melalui interaksi makan dan dimakan. Peristiwa makan dan dimakan antar organisme dalam suatu ekosistem membentuk struktur trofik yang bertingkat-tingkat (Anonim,2008).
Piramida makanan
Piramida makanan adalah suatu piramida yang menggambarkan jumlah individu pada setiap tingkat trofik dalam suatu ekosistem.Piramida jumlah umumnya berbentuk menyempit ke atas. Artinya jumlah tumbuhan dalam taraf trofik pertama lebih banyak dari pada hewan (konsumen primer) di taraf trofik kedua, jumlah organisme kosumen sekunder lebih sedikit dari konsumen primer, serta jumlah organisme konsumen tertier lebih sedikit dari organisme konsumen sekunder (Anonin, 2009).




BAB III
METODE KERJA
III.1. Alat Dan Bahan
III.1.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah pensil, pulpen, penghapus, kalkulator dan pengalas kertas.

III.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah kertas grafik, komponen biotik (Belalang, kadal, semut, rumput, putri malu, kupu-kupu, burung) dan komponen abotik (batu, tanah, air)

III.2. Cara Kerja
Adapun cara kerja dalam percobaan ini adalah:
1.      Menentukan tempat yang dijadikan objek percobaan untuk mengamati suatu individu, populasi, komunitas dan ekosistem.
2.      Melakukan percobaan, dan mengumpulkan data mengenai komponen yang terlibat dalam komunitas.
3.      Menghitung dan mempersiapkan model, yaitu model I, model II, model III, dan model IV.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1. Hasil
A.    Asumsi
Model 1
Tahun 2012 terdapat 10 ekor (5 pasang)
Asumsi 1. 5 X10 = 50 ekor (25 pasang)
50 + 10 = 60 ekor (30 pasang)
Asumsi 2. 60 – 10 = 50 ekor (25 pasang)
Asumsi 3. 50 ekor (25 pasang)
Asumsi 4. 50 ekor (25 pasang)
Tahun 2013 terdapat 50 ekor (25 pasang)
Asumsi 1. 25 X10 = 250 ekor (125 pasang)
250 + 50 = 300 ekor (150 pasang)
Asumsi 2. 300 – 50 = 250 ekor (125 pasang)
Asumsi 3. 250 ekor (125 pasang)
Asumsi 4. 250 ekor (125 pasang)
Tahun 2014 terdapat 250 ekor (125 pasang)
Asumsi 1. 125 X10 = 1250 ekor (625 pasang)
1250 + 50 = 1500 ekor (750 pasang)
Asumsi 2. 1500 – 250 = 1250 ekor (625 pasang)
Asumsi 3. 1250 ekor (625 pasang)
Asumsi 4. 1250 ekor (625 pasang)
Tahun 2015 terdapat 1250 ekor (625 pasang)
Asumsi 1. 625 X10 = 6250 ekor (3125 pasang)
6250 + 1250 = 7500 ekor (750 pasang)
Asumsi 2. 7500 – 1250 = 6250 ekor (3125 pasang)
Asumsi 3. 6250 ekor (3125 pasang)
Asumsi 4. 6250 ekor (3125 pasang)
Tahun 2016 terdapat 6250 ekor (3125 pasang)
Asumsi 1. 3125 X10 = 31250 ekor (15625 pasang)
31250 + 6250 = 37500 ekor (18750 pasang)
Asumsi 2. 37500 – 6250 = 31250 ekor (1625 pasang)
Asumsi 3. 31250 ekor (1625 pasang)
Asumsi 4. 31250 ekor (1625 pasang)
Model 2
Tahun 2012 terdapat 10 ekor (5 pasang)
Asumsi 1.
Tahun 2012 terdapat 10 ekor (5 pasang)
Asumsi 1. 5 X10 = 50 ekor (25 pasang)
50 + 10 = 60 ekor (30 pasang)
Asumsi 2. 2/5 X 10 = 4 ekor (2 pasang)
60 – 6 = 54 ekor (27 pasang)
Asumsi 3. 54 ekor (27 pasang)
Asumsi 4. 54 ekor (27 pasang)
Tahun 2013 terdapat 54 ekor (27 pasang)
Asumsi 1. 5 X10 = 50 ekor (25 pasang)
 54 – 4  = 50 ekor (25 pasang)
 270 + 50 = 320 (160 pasang)
Asumsi 2. 2/5 X 50 = 20 ekor (10 pasang)
320 – 30 = 290 ekor (145 pasang)
Asumsi 3. 290 ekor (145 pasang)
Asumsi 4. 290 ekor (145 pasang)
Tahun 2014 terdapat 290 ekor (145 pasang)
Asumsi 1. 145 X10 = 1450 ekor (725 pasang)
290 – 20 = 270 ekor (135 pasang)
1450 + 270 = 1720 ekor (860 pasang)
Asumsi 2. 2/5 X 270 = 108 ekor (54 pasang)
1720 – 162 = 1558 ekor ( 779 pasang)
Asumsi 3. 1558 ekor ( 779 pasang)
Asumsi 4. 1558 ekor ( 779 pasang)
Tahun 2015 terdapat 1558 ekor ( 779 pasang)
Asumsi 1. 779 X10 = 7790 ekor (3895 pasang)
1558 – 108 = 1450 ekor ( 725 pasang)
7790 + 1450 = 9240 ekor ( 4260 pasang)
Asumsi 2. 2/5 X 1450 = 580 ekor ( 290 pasang)
9240 – 870 = 8370 ekor ( 4185 pasang)
Asumsi 3. 8370 ekor ( 4185 pasang)
Asumsi 4. 8370 ekor ( 4185 pasang)
Tahun 2016 terdapat 8370 ekor ( 4185 pasang)
Asumsi 1. 4185 X10 = 41850 ekor ( 20925 pasang)
8370 – 580 = 7790 ekor ( 3895 pasang)
4150 + 7790 = 49640 ekor ( 24820 pasang)
Asumsi 2. 2/5 X 7790 = 3116 ekor (1558 pasang)
49640 – 4674 = 44966 ekor ( 22483 pasang)
Asumsi 3. 44966 ekor ( 22483 pasang)
Asumsi 4. 44966 ekor ( 22483 pasang)
Model 3
Tahun 2012 terdapat 10 ekor (5 pasang)
Asumsi 1. 5 X 10 = 50 (25 pasang)
50 + 10 = 60 (30 pasang)
Asumsi 2. 60 – 10 = 50 (25 pasang)
Asumsi 3. 2/5 X 50 = 20 ekor (10 pasang)
50 – 20 = 30 pasang
Asumsi 4. 30 ekor (15 pasang)
Tahun 2013 terdapat 30 ekor (15 pasang)
Asumsi 1. 15 X 10 = 150 (75 pasang)
150 + 30 = 180 (90 pasang)
Asumsi 2. 80 – 30 = 150 (75 pasang)
Asumsi 3. 2/5 X 150 = 60 ekor (30 pasang)
150 – 60 = 90 ekor (45 pasang)
Asumsi 4. 90 ekor  (45 pasang)
Tahun 2014 terdapat 90 ekor  (45 pasang)
Asumsi 1. 45 X 10 = 450 (225 pasang)
450 + 90 = 540 (270 pasang)
Asumsi 2. 540 – 90 = 450 (225 pasang)
Asumsi 3. 2/5 X 450 = 180 ekor (90 pasang)
450 – 180 = 270 ekor (135 pasang)
Asumsi 4. 270 ekor (135 pasang)
Tahun 2015 terdapat 270 ekor (135 pasang)
Asumsi 1. 135 X 10 = 1350 (675 pasang)
1350 + 270 = 1620 (810 pasang)
Asumsi 2. 1620 – 270 = 450 (1350 pasang)
Asumsi 3. 2/5 X 1350  = 540 ekor (270 pasang)
1350 – 540 = 810 ekor (405 pasang)
Asumsi 4. 810 ekor (405 pasang)
Tahun 2016 terdapat 810 ekor (405 pasang)
Asumsi 1. 405 X 10 = 4050 ekor (2025 pasang)
4050 + 810 = 4860 (2430 pasang)
Asumsi 2. 4860 – 810 = 4050 (2025 pasang)
Asumsi 3. 2/5 X 4050  = 1620 ekor (810 pasang)
4050 – 1620 = 2430 ekor (1215 pasang)
Asumsi 4. 2430 ekor (1215 pasang)
Model 4
Tahun 2012 terdapat 10 ekor (5 pasang)
Asumsi 1. 5 X 10 = 50 ekor (25 pasang)
50 + 10 = 60 ekor (30 pasang)
Asumsi 2. 60 – 10 = 50 ekor (25 pasang)
Asumsi 3. 50 ekor (25 pasang)
Asumsi 4. 50 + 50 = 100 (50 pasang)
Tahun 2013 terdapat 100 ekor (50 pasang)
Asumsi 1. 50 X 10 = 500 ekor (250 pasang)
500 + 100 = 600 ekor (300 pasang)
Asumsi 2. 600 – 100 = 500 ekor (250 pasang)
Asumsi 3. 500 ekor (250 pasang)
Asumsi 4. 500 + 50 = 550 (275 pasang)
Tahun 2013 terdapat 100 ekor (50 pasang)
Asumsi 1. 50 X 10 = 500 ekor (250 pasang)
500 + 100 = 600 ekor (300 pasang)
Asumsi 2. 600 – 100 = 500 ekor (250 pasang)
Asumsi 3. 500 ekor (250 pasang)
Asumsi 4. 500 + 50 = 550 (275 pasang)
Tahun 2014 terdapat 550 ekor (275 pasang)
Asumsi 1. 275 X 10 = 2750 ekor (250 pasang)
2750 + 550 = 3300 ekor (1650 pasang)
Asumsi 2. 3300 – 550 = 2750 ekor (1375 pasang)
Asumsi 3. 2750 ekor (1375 pasang)
Asumsi 4. 2750 + 50 = 2800  (1400  pasang)
Tahun 2015 terdapat 2800 ekor (1400 pasang)
Asumsi 1. 1400 X 10 = 14000 ekor (7000  pasang)
14000 + 2800 = 16800 ekor (8400 pasang)
Asumsi 2. 16800 – 2800 = 14000 ekor ( 7000 pasang)
Asumsi 3. 1400 ekor (7000 pasang)
Asumsi 4. 14000 + 50 = 1450  (7025  pasang)
Tahun 2016 terdapat 1450  (7025  pasang)
Asumsi 1. 7025 X 10 = 70250 ekor (35125 pasang)
70250 + 14050 = 84300 ekor (42100 pasang)
Asumsi 2. 84300 – 14050 = 70250 ekor ( 35125 pasang)
Asumsi 3. 70250 ekor ( 35125 pasang)
Asumsi 4. 70250 + 50 =  ( 35150  pasang)






B.     Komunitas
Komponen ekosistem, dibagi atas komponen biotik dan abiotik.
Komponen biotik yaitu belalang, kupu-kupu, kadal, semut, rumput, putri malu, dan burung.
Komponenabotik yaitu batu, tanah dan air
Rantai makanan
Jaring jaring makanan











Piramida makanan

IV. 2. Pembahasan
A.    Pembahasan Asumsi
Pada model 1, asumsi 1 (tahun 2012) terdapat 10 ekor burung, setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 50 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 60 ekor (30 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 10 dan totalnya 50 ekor (25 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 50 ekor (25 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2012, jumlah burung yaitu 50 ekor (25 pasang).
Asumsi 1 (tahun 2013) terdapat 50 ekor burung, setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 250 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 300 ekor (150 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 50 dan totalnya 250 ekor (125 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 250 ekor (125 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2013, jumlah burung yaitu 250 ekor (125 pasang).
Asumsi 1 (tahun 2014) terdapat 250 ekor burung, setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 1250 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 1500 ekor (750 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 250 dan totalnya 1250 ekor (625 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 1250 ekor (625 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2014, jumlah burung yaitu 1250 ekor (625 pasang).
Asumsi 1 (tahun 2015) terdapat 1250 ekor burung, setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 6250 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 7500 ekor (3750 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 1250 dan totalnya 6250 ekor (3125 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 6250 ekor (3125 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2015, jumlah burung yaitu 6250 ekor (3125 pasang).
Asumsi 1 (tahun 2016) terdapat 6250 ekor burung, setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 31250 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 37500 ekor (18750 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 6250 dan totalnya 31250 ekor (15625 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 31250 ekor (15625 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2016, jumlah burung yaitu 31250 ekor (15625 pasang).
Pada model 2, asumsi I(tahun 2012), terdapat 10 ekor burung (5 pasang) setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 50 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 60 ekor (30 pasang). Pada asumsi II, dua perlima dari tertua (jantan dan betina)masih dapat mempunyai keturunan lagi yaitu 2/5 dari 10 yaitu 4 (2pasang ). 60 dikurang 6 jadi 54 ekor (27 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 54 ekor (27 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2012, jumlah burung yaitu 54 ekor (27 pasang).
Asumsi I (tahun 2013), terdapat 54 ekor burung (27 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 270 ekor (135 pasang)kemudian burung tetua yang telah menghasilkan 2 keturunan mati, jadi dikurang 4  totalnya 50 ekor, kemudian ditambah dengan jumlah induk yang bru menghasilkan keturunan 1, jadi totalnya 320 ekor (160 pasang). Pada asumsi II, dua perlima dari tertua (jantan dan betina)masih dapat mempunyai keturunan lagi yaitu 2/5 dari 50 yaitu 20  (10 pasang ).320 dikurang 30 jadi 290 ekor (145 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 290 ekor (145 pasang). Pada asumsi IV, tidak adaburung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2013, jumlah burung yaitu 290 ekor (145 pasang).
Asumsi I (tahun 2014), terdapat 290 ekor burung (145 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 1450 ekor kemudian burung tetua yang telah menghasilkan 2 keturunan mati, jadi dikurang 20  totalnya 270 ekor, kemudian ditambah dengan jumlah induk yang bru menghasilkan keturunan 1, jadi totalnya 1720 ekor. Pada asumsi II, dua perlima dari tertua (jantan dan betina) masih dapat mempunyai keturunan lagi yaitu 2/5 dari 270 yaitu 108 ekor. 1720 dikurang 162 jadi 1558 ekor. Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung 1558 ekor (779 pasang) masih tetap 1558 ekor (779 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2014, jumlah burung yaitu 1558 ekor (779 pasang).
Asumsi I (tahun 2015), terdapat 1558 ekor (779 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 7790 ekor kemudian burung tetua yang telah menghasilkan 2 keturunan mati, jadi dikurang 108  totalnya 1450 ekor, kemudian ditambah dengan jumlah induk yang bru menghasilkan keturunan 1, jadi totalnya 9240 ekor. Pada asumsi II, dua perlima dari tertua (jantan dan betina) masih dapat mempunyai keturunan lagi yaitu 2/5 dari 1450ekor yaitu 580 ekor. 9240ekor dikurang 870 ekor jadi 8370 ekor (4185 pasang). . Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung 8370 ekor (4185 pasang) masih tetap 8370 ekor (4185 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2015, jumlah burung yaitu 8370 ekor (4185 pasang).
Asumsi I (tahun 2016), terdapat 8370 ekor (4185 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 4180 ekor kemudian burung tetua yang telah menghasilkan 2 keturunan mati, jadi dikurang 580 ekor  totalnya 7790 ekor, kemudian ditambah dengan jumlah induk yang bru menghasilkan keturunan 1, jadi totalnya 49640 ekor. Pada asumsi II, dua perlima dari tertua (jantan dan betina) masih dapat mempunyai keturunan lagi yaitu 2/5 dari 7790 ekor yaitu 3116 ekor. 49640 ekor dikurang 4674 ekor jadi 44966 ekor (22483 pasang). .Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung 44966 ekor (22483 pasang) masih tetap 44966 ekor (22483 pasang).  Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2015, jumlah burung yaitu 44966 ekor (22483 pasang).
Pada model ke III, asumsi I (2012), terdapat 10 ekor (5 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 50 ekor (25 pasang), kemudian ditambah jumlah induk  jadi 60 ekor (30 pasang). Asumsi II Setiap tetua (induk jantan dan betina) mati sebelum musim musim bertelur berikutnya jadi 60 ekor dikurang 10 ekor menjadi 50 ekor (25 pasang). Asumsi III Dua per lima dari 50 mati sebelum musim bertelur yaitu 20 ekor (10 pasang). 50 ekor dikurang 20 ekor jadi 30 ekor (15 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2012, jumlah burung yaitu 30 ekor (15 pasang).
Asumsi I (2013), terdapat 30 ekor (15 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 150 ekor (75 pasang), kemudian ditambah jumlah induk  jadi 180 ekor (90 pasang). Asumsi II Setiap tetua (induk jantan dan betina) mati sebelum musim musim bertelur berikutnya jadi 180 ekor dikurang 30 ekor menjadi 150 ekor (75 pasang). Asumsi III Dua per lima dari 150 mati sebelum musim bertelur yaitu 60 ekor (30 pasang). 150 ekor dikurang 60 ekor jadi 90 ekor (45 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2013, jumlah burung yaitu 90 ekor (45 pasang).
Asumsi I (2014), terdapat 90 ekor (45 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 450 ekor (225 pasang), kemudian ditambah jumlah induk  jadi 540 ekor (270 pasang). Asumsi II Setiap tetua (induk jantan dan betina) mati sebelum musim musim bertelur berikutnya jadi 540 ekor dikurang 90 ekor menjadi 450 ekor (225 pasang). Asumsi III Dua per lima dari 450 mati sebelum musim bertelur yaitu 180 ekor (90 pasang). 450 ekor dikurang 180 ekor jadi 270 ekor (135 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2014, jumlah burung yaitu 270 ekor (135 pasang).
Asumsi I (2015), terdapat 270 ekor (135 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 1350 ekor (675 pasang), kemudian ditambah jumlah induk  jadi 1620 ekor (810 pasang). Asumsi II Setiap tetua (induk jantan dan betina) mati sebelum musim musim bertelur berikutnya jadi 1620 ekor dikurang 270 ekor menjadi 1350 ekor (675 pasang). Asumsi III Dua per lima dari 1350 mati sebelum musim bertelur yaitu 540 ekor (270 pasang). 1350 ekor dikurang 540 ekor jadi 810 ekor (405 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2015, jumlah burung yaitu 810 ekor (405 pasang).
Asumsi I (2016), terdapat 810 ekor (405 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 4050 ekor (2025 pasang), kemudian ditambah jumlah induk  jadi 4860 ekor (2430 pasang). Asumsi II Setiap tetua (induk jantan dan betina) mati sebelum musim musim bertelur berikutnya jadi 4860 ekor dikurang 810 ekor menjadi 4050 ekor (2025 pasang). Asumsi III Dua per lima dari 4050 mati sebelum musim bertelur yaitu 1620 ekor (810 pasang). 4050 ekor dikurang 1620 ekor jadi 2430 ekor (1215 pasang). Pada asumsi IV, tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut. Sehingga pada tahun 2015, jumlah burung yaitu 2430 ekor (1215 pasang).
Pada model IV, asumsi 1 (tahun 2012) terdapat 10 ekor burung, setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 50 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 60 ekor (30 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 10 dan totalnya 50 ekor (25 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 50 ekor (25 pasang). Pada asumsi IV, terdapat 50 burung gereja datang ke pulau tersebut jadi 50 ekor ditambah 50 ekor menjadi 100 ekor (50 pasang).
Asumsi 1 (tahun 2013) terdapat 100 ekor burung (50 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 50 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 600 ekor (300 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 100 dan totalnya 500 ekor (250 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 500 ekor (250 pasang). Pada asumsi IV, terdapat 50 burung gereja datang ke pulau tersebut jadi 500 ekor ditambah 50 ekor menjadi 550 ekor (275 pasang).
Asumsi 1 (tahun 2014) terdapat 550 ekor burung, setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 50 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 3300 ekor (1650 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 550 dan totalnya 2750 ekor (1375 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 2750 ekor (1375 pasang). Pada asumsi IV, terdapat 50 burung gereja datang ke pulau tersebut jadi 2750 ekor ditambah 50 ekor menjadi 2800 ekor (1400 pasang).
Asumsi 1 (tahun 2015) terdapat 2800 ekor burung (1400 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 14000 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 16800 ekor (8400 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 2800 dan totalnya 14000 ekor (7000 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 14000 ekor (7000 pasang). Pada asumsi IV, terdapat 50 burung gereja datang ke pulau tersebut jadi 14000 ekor ditambah 50 ekor menjadi 14050 ekor (7025 pasang).
Asumsi 1 (tahun 2016) terdapat 14050 ekor burung (7025 pasang), setiap pasang burung menghasilkan 10 keturunan, selalu 5 jantan dan 5 betina menghasilkan 70250 ekor kemudian ditambah dengan jumlah induk, jadi totalnya 84300 ekor (42150 pasang). Pada asumsi II, semua tetua (induk jantan dan induk betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung berkurang 14050 dan totalnya 70250 ekor (35125 pasang). Pada asumsi III, semua keturunan hidup sampai musim bertelur berikutnya, jadi jumlah burung masih tetap 70250 ekor (35125 pasang). Pada asumsi IV, terdapat 50 burung gereja datang ke pulau tersebut jadi 70250 ekor ditambah 50 ekor menjadi 70300 ekor (35150 pasang).

B.     Pembahasan Komunitas
Rantai makanan
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu. Dalam rantai makanan, ada makhluk hidup yang berperan sebagai produsen, konsumen dan dekomposer.
Pada gambar rantai makanan, terjadi proses makan dan dimakan dalam urutan tertentu yaitu rumput dimakan oleh belalang, dimana rumput bertindak sebagai produsen dan belalang bertindak sebagai konsumen tingkat satu (herbivora). Belalang dimakan oleh katak (konsumen tingkat dua). Katak dimakan oleh ular (konsumen III), ular dimakan oleh elang (konsumen IV). Apabila elang mati, akan diuraikan oleh jamur (dekomposer) menjadi zat hara yang akan dimanfaatkan oleh tumbuhan utuk tumbuh dan berkembang.
Tiap tingkat dari rantai makanan dalam suatu ekosistem disebut tingkat trofik. Pada tingkat trofik I adalah organisme yang mampu memanfaatkan zat hara untuk tumbuh dan berkembang yaitu tubuhan. Organisme yang menduduki trofik II adalah konsumen tingakat 1 yaitu belalang. Organsime yang menduduki trofik III adalah konsumen tingkat II yaitu katak, Organsime yang menduduki trofik IV adalah konsumen tingkat III yaitu ular, Organsime yang menduduki trofik V adalah konsumen tingkat IV  yaitu burung elang.
Jaring- jaring makanan
Di dalam ekosistem, terdapat rantai makanan yang saling berhubungan membentuk suatu jaring-jaring makanan.
Pada gambar jaring-jaring makanan, rumput dimakan oleh belalang, burung pemakan biji-bijian, tikus dan kelinci (konsumen I). Kemudian, kelinci dimakan oleh rubah dan elang, belalang dimakan oleh laba-laba, burung pemakan serangga dan serangga predator dan seterusnya.
Rantai makanan yang saling berhubungan dan membentuk suatu kesatuan yang sangat kompleks dinamakan jaring-jaring makanan.
Piramida makanan
Piramida makanan adalah piramida yang mengambarkan jumlah besar dan emergi mulai dari produsen sampai konsumen puncak.
Saat terjadi peristiwa makan dan dimakan, tidak semua energi berpindah dari makhluk hidup yang dimakan ke makhluk hidup pemakan sehingga terbentuk piramida makanan yang semkain ke atas semakin kecil.
Sebuah ekosistem akan seimbang dan terjaga kelestariannya apabila jumlah produsen lebih banyak dibandingkan dengan jumlah konsumen tingkat I, jumlah konsumen I harus lebih banyak dari konsumen II dan seterusnya.
Jaring-jaring makanan
Di dalam ekosistem, terdapat rantai makanan yang saling berhubungan membentuk suatu jaring-jaring makanan.
Pada gambar, rumput dimakan oleh belalang, burung pemakan biji-bijian, tikus dan kelinci (konsumen I). Kemudian, kelinci dimakan oleh rubah dan elang, belalang dimakan oleh laba-laba, burung pemakan serangga dan serangga predator dan seterusnya.
Rantai makanan yang saling berhubungan dan membentuk suatu kesatuan yang sangat kompleks dinamakan jaring-jaring makanan.
Piramida makanan
Piramida makanan adalah piramida yang menggambarkan jumlah berat dan energi mulai dari produsen sampai konsumen puncak. Saat terjadi peristiwa makan dan dimakan, tidak semua energi berpindah dari makhluk hidup yang dimakan ke makhluk hidup pemakan sehingga terbentuk piramida makanan semakin ke atas semakin kecil.
Sebuah ekosistem akan seimbang dan terjaga kelestariannya apabila jumlah produsen lebih banyak dibandingkan jumlah konsumen tingkat I, jumlah konsumen I harus lebih banyak dari pada konsumen tingkat II dan seterusnya.


BAB V
PENUTUP
V.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan:
1.      Terdapat empat model yang digunakan untuk melakukan percobaan mengenai populasi, komunitas, danekosistem. Dan setiap model terdapat 4 asumsi dimulai dari 2012-2016.
2.      Rantai makanan adalah proses makan dan dimaka nole hmakhluk hidup. Sedangkan sekumpulan rantai makanan yang saling berinteraksi yang lebih kompleks membentuk jarring-jaring makanan.
3.      Piramida makanan adalah piramida yang menggambarkan jumlah berat dan energi mulai dari produsen sampai konsumen puncak. Saat terjadi peristiwa makan dan dimakan, tidak semua energi berpindah dari makhluk hidup yang dimakan ke makhluk hidup pemakan sehingga terbentuk piramida makanan semakin ke atas semakin kecil.

V.2.Kritik
            Dalam praktikum ini, lingkungan yang dipakai untuk dijadikalokasi penelitian sangat sempit dan waktunya hanya sedikit sehingga dalam pengamatannya tidak terlalu detail.

V.3. Saran
            Sebaiknya , dalam pemilihan lokasi menggunakan tempat yang agak luas sehingga lingkungan yang akan diamati biotik dan abiotiknya banyak.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim,2012,Biologi Dasar, Media Anda, Jakarta.
Ferdinand,factor,dkk,2009,Praktis Belajar Biologi,Visindo Media Persada, Jakarta.
Firmansyah,rikky,2009,Mudah dan Aktif Belajar Biologi, Setia Purna Inves,Jakarta.
Herni,2009,Belajar dengan Biologi,Erlagga,Jakarta.
Suwarno,2009,Biologi XII, Pusat Perbukuan Departemen Pendidkan Nasional,    
       Jakarta.